Setiap orang yang sehat secara rohani, baik secara sadar maupun tidak sadar sebenarnya telah memiliki sebuah harga diri. Namun begitu, belum semua memahami tentang makna dari harga diri itu sendiri. Menurut kutipan dari wikipedia, harga diri adalah pandangan keseluruhan dari individu tentang dirinya sendiri.
Penghargaan diri juga kadang dinamakan martabat diri atau gambaran diri. Sedangkan menurut stuart dan sundeen menyatakan bahwa, harga diri adalah penilaian individu terhadap hasil yang dicapai dengan menganalisa seberapa jauh perilaku memenuhi ideal dirinya. Dapat juga diartikan bahwa menggambarkan sejauh mana individu tersebut menilai dirinya sebagai orang yang memeiliki kemampuan, keberartian, berharga, dan kompeten.Sebagai misal, anak dengan penghargaan diri yang tinggi mungkin tidak hanya memandang dirinya sebagai seseorang, tetapi juga sebagai seseorang yang baik.
Jika melihat definisi diatas, maka sebuah harga diri dapat bersifat sangat subyektif sekali, hal ini bisa bisa kita lihat perilaku sehari-hari manusia, mungkin diantaranya adalah kita pernah menyatakan bahwa “saya masih punya harga diri”. Hal inilah yang terkadang menjadikan sebuah “harga diri” menunjukkan karakter seseorang. Keduanya sangat berkaitan erat, hal ini tentunya bisa dilihat dari definisi dari karakter itu sendiri, yaitu karakter merupakan cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerjasama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Individu yang berkarakter baik adalah individu yang bisa membuat keputusan dan siap mempertanggungjawabkan tiap akibat dari keputusan yang ia buat.
Seberapa besar harga diri seseorang akan dapat ditentukan seberapa besar seseorang seseorang dapat berbuat dan seberapa besar mereka dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya. Harga diri seorang presiden misalnya, maka akan dapat ditentukan seberapa besar presiden tersebut dapat berbuat untuk bangsa dan negaranya serta bagaimana presiden tersebut mempertanggungjawabkan atas perbuatannya (kepemimpinannya) itu. Begitu juga harga diri seorang laki-laki misalnya sebagai seorang ayah dari anak-anaknya atau sebagai seorang suami terhadap istrinya. Maka harga dirinya adalah bagaimana dapat berbuat dan mempertanggungjawabkan sebagai sehorang kepala keluarga.
Seseorang menyebut “saya masih punya harga diri”, tidak semata-mata diukur secara pribadi yang bersifat subyektif, tetapi tentunya perlu tolok ukur yang lebih obyektif yaitu diperlukan orang lain yang telah mengenal pribadi orang yang bersangkutan. Sehingga apabila orang lain yang mengenal baik dalam pergaulan maupun pekerjaan melakukan penilaian misalnya “dia masih punya harga diri” atau bahkan ada orang lain yang mengumpat dengan sumpah serapah “dasar orang tidak punya harga diri” artinya bahwa penilaian orang lain akan lebih obyektif dibanding jika melakukan penilaian diri terhadap diri sendiri.
Secara umum menyebut harga diri artinya harga diri yang memiliki tolok ukur tertentu, misalnya harga diri saja untuk menyebut yang memiliki perilaku yang baik atau berharga dan dapat dipertanggungjawabkan. Sedangkan harga diri yang rendah adalah menolak dirinya sebagai sesuatu yang berharga dan tidak bertanggungjawab atas kehidupannya sendiri. Jika individu sering gagal maka cenderung menyebut sebagai harga diri yang rendah. Disebut Harga diri rendah jika seseorang kehilangan kasih sayang dan penghargaan atas orang lain. Sehingga harga diri dapat diperoleh dari diri sendiri dan orang lain, aspek utama adalah diterima dan menerima penghargaan dari orang lain. Gangguan harga diri rendah menurut sebuah studi di gambarkan sebagai perasaan yang negatif terhadap diri sendiri, termasuk hilangnya percaya diri dan harga diri, merasa gagal mencapai keinginan, mengkritik diri sendiri, penurunan produktivitas, destruktif yang diarahkan pada orang lain, perasaan tidak mampu, mudah tersinggung dan menarik diri secara sosial.
Diambil dari berbagai sumber. www.ajimedia.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar